Oleh: Husni Ilyas | 30 Juli 2009

Jangan Memangkas Kreativitas Anak

Sebagai wali santri, aku akhirnya memutuskan untuk menulis surat komplain pada pihak sekolah. Apa yang terjadi di hari ketiga di kelas Ammar, kelas anakku, menurutku dan beberapa wali santri lain, merupakan kemunduran. Terutama bagi santri-santri kecil yang masih baru merasakan ‘sekolah’. Memangnya apa sih yang terjadi?

Gambar Online via YM, Ayah, Bunda & Aysar

Gambar Online via YM, Ayah, Bunda & Aysar

Ehem, begini…

Hari pertama dan kedua berlangsung baik dan wajar. Karena hari ke-1 dan ke-2, ustadzahnya cukup luwes dan terlihat cukup berpengalaman dengan anak-anak. Maka selama 2 hari itu, anak-anak yang semula takut-takut mulai menuju ke arah mandiri dan lebih berani berekspresi. Hari ke-3, aku masih ikut masuk kelas untuk mendampingi anak sulung yang terlalu dekat dengan ibunya ini. Jadi, sejak awal sampai akhir mengikuti terus proses KBM ini. Ternyata, banyak hal yang ‘mengganggu’ku. Untungnya aku membawa buku jadi bisa mencatat poin-poin yang membuat wali santri mengeluh.


Ustadzah yang mengajar kali ini sepertinya sulit tersenyum. Lain dengan yang kemarin. Melihat masih banyak santri TK A yang masih diantar dan ditunggui ibu-ibunya di dalam kelas, Ustadzah mengancam santri akan menyuruh ibu-ibunya keluar kelas. Reaksi yang muncul? Beberapa santri kecil itu mulai menangis. Senyum ceria yang menghias wajah-wajah imut itu hilang sudah. Padahal, ketika berangkat sekolahnya mereka bersemangat sekali.

Intonasi suara yang monoton dari ustadzah membuat santri imut jadi bosan. Membuat mereka mengantuk. Setelah berjuang bangun pagi-pagi, melawan kantuk. Wajar saja jika tidak ada feedback positif dari santri. dan ternyata, hal itu membuat ustadzah kecewa, dan mulai mengancam akan mengeluarkan para ibu. Tentu saja ancaman ini membuat santri kecil tidak nyaman.

Ditambah lagi mimik wajah yang kurang ekspresif. Seharusnya, sang ustadzah bisa mempengaruhi suasana sekitarnya dengan menebar senyum dan pesonanya pada para santri imut. Tidak seperti ini: “Ayo siapa yang hari ini sikat gigi sendirii?” dengan wajah dan intonasi tetap datar. Ingin tertawa mengingatnya. Sepertinya, Ibu ustadzah ini lebih cocok menjadi dosen. (Bukan berarti dosen harus membosankan seperti itu, tapi karena mahasiswanya sudah bisa mandiri dalam menyimak).

Dalam segi diksi, sepertinya juga bermasalah. Harusnya seorang guru bisa mendorong kreativitas anak didik dengan menggunakan ungkapan positif yang membesarkan rasa percaya diri anak. Encourage, bukan discourage (cmiiwp). Bukan justru menjatuhkan, seperti ungkapan: “Yaah, ngga dapat surga tuuh. Kasian deh.” Oh, My God! Plis deh.

Sang ustadzah juga terlalu self-centered. Sepertinya fokus beliau lebih pada mengejar target materi yang harus disampaikan olehnya. Hanya pada menyelesaikan tugas dia seperti dalam lesson plannya. Bukan pada: apakah santri imut mengerti dan menyukai yang dia sampaikan. Apakah yang disampaikannya sampai juga ke hati santri imut dan ibu-ibunya yang mendampingi.

Melabeli santri dengan julukan negatif. Jika dia melihat santri melakukan hal yang kurang baik atau tugas santri tidak ditunaikan dengan baik (tentu saja, santri baru akan banyak kesalahan dalam mengerjakan tugas-tugas sederhananya), maka beliau akan menyebut si santri dengan kekurangannya itu. Misalnya: “Aduh, pemarah ih”, “Kok dibikinin ibunya sih”, “Yah, jelek tuh warnainnya”. Hhh…!

Yang terakhir ini mungkin masih menjadi kontradiksi, banyak perbedaan pendapat antara para pendidik. Yaitu, metode pengajaran menggambar atau mewarnai untuk anak-anak. Yang terjadi pada sesi tersebut adalah:

Sang guru ini mengajari santri untuk mewarnai dengan cara dia mewarnai juga untuk contoh, tentu saja dengan cara orang dewasa mewarnai, dan tentu saja yang masuk akal orang dewasa. Hasilnya ditempel di papan, lalu mengarahkan santri imut untuk meniru mewarnai seperti apa yang dia lakukan: ikan boleh diwarnai apa saja, air HARUS biru, dasar air/laut HARUS abu-abu, dan hal-hal realistis lainnya. Santri imutku mogok mewarnai. Beberapa santri imut juga masih ngambek, meminta mamanya yang mewarnai.

Akhirnya, santri imutku menyerahkan kertas gambar ikan tersebut tanpa warna. Sang guru berkomentar “Kok kosong, ngga boleh dikumpulin, bawa pulang aja ya, warnai di rumah.” Jelas sekali metode yang diterapkan Sang ustadzah tidak mampu mengembangkan kreativitas anak. Metode ini hanya berorientasi pada hasil yang memuaskan ustadzah. Setahu saya, seorang konselor art untuk anak mengatakan: Bahkan cara pandang dan cara gambar seorang anak dan dewasa pasti berbeda. Anak menggambarkan rel kereta dan pagar kayu mungkin akan dalam dimensi yang sama. Rel seperti pagar, pagar juga seperti rel. Kalau dewasa, pasti ada perbedaan antara pagar dengan rel, pagar akan nampak berdiri, sedang rel nampak rebah.

Jadi, biarkan anak berkreasi. Prosesnyalah yang penting. Bukan hasil. Bagi anak, menggambar/mewarnai dan aktivitas lainnya adalah sarana memupuk kepercayaan diri dan kreativitas.

Sebenarnya aku bersyukur dengan adanya dewan asatidzah di sekolah ini, karena mereka orang-orang yang paham agama dan pandai. Semoga dengan adanya kritik dan saran ini, sekolah bisa meng-up-grade skill para ustadzah.

Sumber: http://www.edumuslim.org/index.php?option=article&article_rf=196

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: